little notes

411

11/09/2016 07:07:00 AM

411 adalah sejarah baru. Jutaan umat muslim Indonesia secara damai menyampaikan tuntunannya kepada petinggi RI atas pelecehan agama yang telah dilakukan oleh salah satu warga Indonesia. Penyampaian pendapat dilakukan dengan demonstrasi di berbagai kota Indonesia. Jakarta penuh lautan manusia. Putih layaknya buih. Bukan riak, tapi gelombang (Ustadz Latief Khan, 2016).



Kata-kata penistaan yang telah terlontar, sengaja atau tak sengaja, jelas harus dipertanggungjawabkan secara jantan melalui proses hukum negara. Umat islam telah menyerahkan proses ini pada hukum, dan akan terus mengawasi hingga kasus berakhir.

411 adalah bukti. Bahwa umat muslim siap jadi garda terdepan pertahanan negara. Peristiwa ini membuat saya bangga menjadi seorang muslim (Panglima TNI RI, 2016). Bagaimana tidak? Jutaan umat muslim nusantara bersatu tanpa memandang suku, ras, jama'ah, dan sejuta perbedaan lainnya. Tujuannya hanya satu. Membela Al-Qur'an dan ulama yang telah dinistakan.

Saya yakin, fokus ke masalah tidak akan menyelesaikan apa-apa. Maka, mari menyelami lautan hikmah.

Seorang teman mengupload foto 'gelombang' itu dan memberi deskripsi, "Inilah ukhuwah islamiyah itu" (Fatimah Marwa, 2016). Masya Allah. Benar. Inilah ukhuwah yang sering kita ceritakan itu. Inilah buktinya.

411 adalah kita. Sebagian kita turun ke jalan, sebagian lagi mendo'akan dan membantu dari penjuru dunia manapun diri berada. Semuanya disaksikan oleh Allah. Allah lah yang menyatukan hati kita. Melembutkan jiwa kita.

Saya tak bisa membendung air mata dalam beberapa suasana. Dalam tilawah, shalat, do'a, tausiyah, video, bahkan sebuah foto.



Beginikah indahnya islam itu, wahai Zat Yang Maha Menyatukan Hati? Kami harusnya meleleh karena kasih sayang-Mu... Ya muqallibul qulub, tsabbit qalbii 'ala diinik.



Salam keadilan,



Saudaramu seakidah islam
Ida Mayasari



Share postingan ini jika kamu anggap bermanfaat! :)
Klik kanan pada icon social media di bawah ini, pilih open link in new tab/window!

You Might Also Like

2 komentar

  1. Ida, sebelumnya aku enggan berkomentar tapi gakpapalah iseng iseng.

    Jujur ada tulisan seperti ini membuat aku prihatin atas keawaman orang mengenai hukum dan politik. Kalau seseorang (tanpa mengaitkan NKRI dsb tentang negara ini) membawakan agamanya serta memuja Allahnya di lingkungan lain pasti sangat bagus. Ingat ini negara NKRI negara hukum bukanlah negara muslim. Hanya karena 1 orang lemah lalu ribuan orang ingin menyerang. Wah, bayangkan perasaan kami kaum minoritas. Campur aduk. Itu kira-kira opini baper saya.

    Tapi karena aku juga berkecimpung di dunia hukum jadi yang kaku juga belajar rasional kalau seseorang salah yang memang harus dihukum. Saat seseorang diduga melakukan tindak pidana makanya unsur-unsur dalam tindak pidana tersebut harus terpenuhi. Untuk kasus tersebut tidak memenuhi unsur di pasal 156 a KUHP. Baca selanjutnya disini: http://www.bbc.com/indonesia/trensosial/2016/10/161007_trensosial_ahok_laporanpenistaan


    Menurutku kasus ini bukan soal agama dan gak ada hubungannya dengan agama. Ini murni politik saja karena Pilkada DKI. Jadi jangan dibawa baper, justru sebagian orang disana juga gak tahu mau ngapain.

    Dan sekarang kan justru banyak kasus karena aksi 411 kemaren: seperti kasus politisasi pembiayaan dana 411 oleh SBY, kasus makar yang muncul di aksi 411. Intinya, ini semua masalah politik kok dan aku tetap kukuh kalau Pak Ahok tidak mungkin menoda agama. Beliau juga sadar kok kaum minoritas dan bisa didepak kapan saja. Justru ke'rasis'an jadi terlihat pada peristiwa 411 itu. Seorang Ahok yang bersih (tidak korupsi seperti pejabat-pejabat lain) dan disegani rakyat saja bisa difitnah lalu didemonstrasi (demo karna provaksi), apalagi warga minoritas lainnya? hiks. Sedih ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebenarnya aku juga enggan membalas komentar ini. Haha. Karena sepertinya akan sia-sia, hanya membuang kata-kata.

      Tapi sungguh, ini bukan tentang minoritas dan mayoritas. Toh kita dari SMA dahulu bersahabat tanpa pernah ada masalah. Karena kita saling menghargai perbedaan pilihan masing-masing, tidak coba mencampuri dan menggoyahkan keyakinan satu sama lain. Egrith dulu sabar sekali menunggu kami sholat 5 waktu di les. Dan kami juga setiap pekan memilih pindah ke kelas lain pada mata pelajaran agama karena kelas kita dipakai untuk egrith dan teman-teman belajar agama juga. Adakah di hati kita iri dan dendam saat itu? Nggak kan. :)

      Maka, itu haknya egrith untuk memilih dan membela siapapun yang egrith mau. Silakan, grith. Bebas aja. Sama kayak dulu hingga sekarang. Saling menghargai aja dengan pilihan masing-masing. :)

      Delete

jangan sungkan untuk berkomentar ya :)