story

Raudhah

6/11/2015 04:49:00 PM

Hari itu hari pertama kami di Madinah.
Dzuhur terindah yang pernah kurasakan. Sholat pertama di masjid Nabawi, masjid pertamanya Rasulullah, basecamp-nya generasi awal membangun peradaban islam. Sholat-sholat setelahnya pun menjadi begitu indah. Hingga malam tiba. Sekitar pukul 09.00 malam waktu Saudi Arabia, kami ke masjid lagi. Mau ke Raudhah.

Katanya, Raudhah adalah tempat mustajab untuk berdo'a. Rumahnya Rasulullah. Mimbarnya Rasulullah. Makamnya Rasulullah. Maka berdesir hati ini menuju Raudhah. Jadwal berkunjung ke Raudhah untuk pria itu 24 jam, sedangkan untuk wanita dibatasi dari jam 9 pagi hingga jam 10 malam saja. Maka, kami harus tiba disana sebelum jam 10.

Nyaris jam 10 akhirnya sampai juga di pintu menuju jalan ke Raudhah. Jangan bayangkan ketika kami masuk, langsung dapat Raudhah ya. Kami harus menunggu dulu, di dalam masjid (sisi lain sebelum Raudhah). Menunggu antrian. Karena ternyata banyak juga yang sudah ngantri mau ke Raudhah. Tempat menunggu saat ini sajadahnya masih warna merah. Katanya sajadah di Raudhah itu warna hijau. Maka, berdesir lagi lah hati ini tak sabar menuju taman-taman surga.

Dari jam 10, kami menunggu. Melawan kantuk yang tak tertahankan. Mana lagi kondisi tubuh masih jetlag. Kalau di Arab jam 10, berarti di Indonesia itu jam 2, waktunya tidur. Haduh, mata ini udah ga sanggup, ya Allah. Untuk membunuh waktu, udah coba tilawah. Udah coba liat-liat arsitektur masjid. Masih ngantuk ya, Allah. Akhirnya karena saya ga sanggup lagi, terpaksalah agak-agak menidurkan kepala di atas tas. Tidur-tidur ayam.

Sampai jam 12, belum ada perkembangan. Kami masih di karpet merah, belum bergerak. Hingga akhirnya sekitar jam  12-an, kita udah bisa gerak. Ke tempat yang atasnya payung besar masjid Nabawi, bukan di dalam masjid lagi. Tapi karpetnya masih merah. Berarti ini bukan Raudhah. Ternyata Raudhah sudah di depan mata. Kubah masjid yang warna hijau sudah kelihatan dekat. Dekat sekali.

kubah hijau
Karena di dalam Raudhah nanti mau sholat 2 rakaat, sedangkan tadi saya udah tidur-tidur ayam. Jadinya saya ambil wudhu lagi di tempat itu. Jaga-jaga aja kalo wudhunya yang sebelumnya udah batal. Wudhunya pake air zam-zam yang ada di galonnya. Terus tuang airnya di atas tempat sampah.  Sebenarnya ga boleh wudhu di situ. Karena bakal becek. Ga jarang petugas-petugas kebersihan di situ marah-marah karena bagian belakang itu becek. Tapi mau gimana lagi ya. Saya juga bandel. Hehe. Maafkan hamba ya, Allah.

Setelah nunggu juga hampir 1 jam di tempat itu, akhirnya kita bisa masuk ke Raudhoh. Dengan desak-desakan. Ketika karpet hijau udah keliatan, ketika udah dipijak, aduh rasanya masyaa Allah banget. Mau nangis. Akhirnya sampe Raudhah. Dan Raudhah itu rameeee banget. Kita harus desak-desakan untuk cari tempat sholat. Akhirnya nemu celah, dan bisa shalat 2 rakaat. Boleh shalat hajat, boleh shalat taubat, atau shalat 2 rakaat biasa tanpa diniatkan khusus. Dan ya Allah... Suasananya. Susah dijelaskan dengan kata-kata. Sendu, haru, rindu, pecah semuanya. Pecah.

Tangis di kanan-kiri. Di rakaat pertama... ya Allah... Tumpah. Tumpah air mata. Fatihaah... Allahu Akbar. Ya Allah, beneran haru. Sampai selesai sholat. Tinggal do'a. Do'a paling dalam yang pernah saya persembahkan seumur hidup. Do'a yang saat itu saya tidak tahu akan tercapai atau tidak. Saya hanya do'a. Saya tahu Allah Maha Segala. Maka saya yakin, do'a apapun yang saya minta, sama Allah pasti mudah.

Secara garis besar, do'a saya cuma 3. Kira-kira gini bunyinya :

Ya Allah, angkat semua penyakit dari tubuh hamba. Penyakit menahun yang pernah hamba derita.
Ya Allah, jika jalan dakwah adalah jalan yang terbaik, maka tuntun, bimbing, dan kuatkan hamba untuk menapaki jalan dakwah.
Ya Allah, siapkan hati hamba. Kuatkan hati hamba untuk berhijab syar'i di luar rumah maupun di dalam rumah.

Perlu diketahui. Pada saat itu, kira-kira awal tahun 2014, saya belum berhijab syar'i sepenuhnya. Masih kadang-kadang aja pakai jilbab syar'i-nya. Meskipun sudah selalu pakai rok kalau keluar rumah. Tapi ketika ngurus Passport di Januari 2014, saya masih pakai kerudung yang terawang. Warna kuning. Saya ingat betul. Sebenarnya dari hati ini, ada niat dan kemauan untuk berhijab syar'i. Tapi kok berat ya. Hingga akhirnya saya selipkan saja niat itu dalam do'a.

Sekedar informasi juga. Pada saat itu, saya sudah masuk di organisasi islam di kampus sebagai salah satu staff atau anggota sebuah bidang. Tapi ya namanya masih bandel, saya jarang banget dateng syuro' atau ikutin kegiatan di organisasi. Pokoknya ketika itu saya liqo' lover, artinya liqo' rajin tapi jarang ikutin kegiatan dakwah. Meskipun saya tahu, ini organisasi bagus lho. Ngajak orang menuju kebaikan. Tapi hati saya enggan. Saya enggan sekali bergabung dengan gerakan dakwah manapun. Saya takut terkekang. Maka, saya selipkan saja kegundahan itu dalam do'a.

Hingga akhirnya..
Kira-kira 3 hari setelah ke Raudhah, ketika saat itu kami sudah di Makkah, saya dikejutkan oleh sebuah pesan singkat. SMS dari salah seorang teman. Yang isinya : 
Barakallah, antum diamanahkan untuk jadi Bendahara Umum UKMI Al-Khuwarizmi Fasilkom-TI (organisasi yang saya maksud tadi). 
Ya Allah, saya mau nangis bacanya. Allah, kenapa cepet banget jawab do'a saya? Saya, seorang anggota yang ga aktif di organisasi, yang jarang ikut acara atau rapat, dapet amanah jadi presidium, jadi badan pengurus harian, bendahara pula, megang uang umat? 

Tapi saya yakin, ini bukan kebetulan. Ini amanah saya yakin bukan dari qiyadah, bukan dari murobbiah saya. Ini amanah dari Allah untuk menjawab do'a saya. Dari situ, saya ambil ibroh. Ternyata Allah mau tuntun dan bimbing saya ke jalan dakwah. Masya Allah... Allah perhatian banget sama saya.

Pulang dari umroh, saya bertekad mau pakai jilbab syar'i karena saya yakin semua do'a ga akan terkabul gitu aja tanpa saya kasih liat Allah usaha dan kemauan saya. Akhirnya, kerudung-kerudung terawang mulai ditinggalin sedikit-sedikit. And then... Dengan izin Allah, sekarang saya insya Allah sudah berhijab syar'i. Do'akan saya ya semoga istiqomah. ^_^

Do'a tentang penyakit gimana?
Nah, saya juga tidak bisa menyimpulkan itu penyakit atau tidak. Karena penyakit ini sebenarnya bukan saya aja yang alami. Tapi ibu dan kakak saya juga. Sepertinya sudah keturunan. Alhamdulillah, ibu dan kakak saya belum pernah mendapat mudharat dari penyakit ini. Sampai saat ini penyakitnya tidak mengganggu. Dan sudah mulai berkurang. Jadi tidak perlu dikhawatirkan.

Dahsyat ya do'a di Raudhah? Beneran mustajab.
Saya ga mau, perjalanan saya ketika umroh berlalu begitu saja tanpa memberikan manfaat sesudahnya. Makanya, saya selalu berusaha untuk perbaiki diri dari hari ke hari. Insya Allah.

Allah yang Maha Perhitungan, ternyata juga perhatian.
Allah yang Maha Memerintah, ternyata juga pemurah.
Fafirruu ilallaah.. Maka bersegeralah kembali pada Allah.
Berlarilah pada Allah. Sekencang-kencangnya. Sekarang juga.



Salam Ceria, Readers :)



Ida Mayasari



Share postingan ini jika kamu anggap bermanfaat! :)
Klik kanan pada icon social media di bawah ini, pilih open link in new tab/window!

You Might Also Like

0 komentar

jangan sungkan untuk berkomentar ya :)